Film dan sastra, dari Masa ke Masa

Komite buku nasional ingin memberikan kesempatan bagi karya sastra untuk dialihwacanakan menjadi dunia film. Fenomena alihwahana teks sastra menjadi scenario film ini sudah lama terjadi dan mendapatkan sambutan positif dari masyarakat.

Pada tahun 2007 saja, sebuah tabloid telah membuat daftar 25 film Indonesia yang dianggap sebagai film terbaik sepanjang masa. Dari ke 25 film tersebut, lima film adalah hasil adaptasian dari buku fiksi atau karya sastra seperti Badai Pasti Berlalu (1977), Cintaku di kampus biru (1976), Pengantin Remaja (1971), dan Gita Cinta dari SMA (1979).

Didik Suhardi

Foto : Press Conference, Kamis pagi, (29/9), Aula Graha, Ged A. Lt.2, Komp. Kemendikbud, Senayan. Jakarta.

Ada juga novel terbaru di awal millennium ketiga yang kemudian diangkat ke layar lebar seperti film laskar pelangi (2008) yang disutradai oleh Riri Riza dari novel karya karya Habiburrahman EL Shirazy, film 5 cm (20/12) disutradarai oleh Rizal Mantovani dari novel karya Donny Dirgantoro.

Begitupun film tengelamnya kapal Van Der Wijck (2013) Disutradarai oleh Sunil Soraya dari novel karya Penulis Harum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra , film Habibie dan Ainun (2012) disutradarai oleh Faozan Rizal Karya penulis BJ Habibie dan film Supernova (2014) disutradarai oleh Rizal Mantovani karya penulis Dewi Dee Lestari.

Industri film yang mengambil ide dari adaptasi karya sastra, Biografi, termasuk komik, adalah pasar yang menjanjikan di negeri ini. Sebaliknya keberadaan film itu dapat meningkatkan gairah penerbitan di Indonesia. Selanjutnya, kedua genre ini membuka jalur di pasar international termasuk bidang pengetahuan legal formal, alih bahasa dari buku – buku, promosi dan jejaring international. (r/p)

About

POST YOUR COMMENTS