Bayer Indonesia Mendukung Pertemuan Ilmiah InaHRS

NewswartasatuBayer Indonesia sebagai perusahaan berbasis life science mendukung upaya Indonesian HeartRyhthm Society (InaHRS) dalam meningkatkan pemahaman dan pengetahuan Dokter di Indonesia melalui pertemuan ilmiah InaHRS pada tanggal 7-8 Oktober mendatang di Jakarta dengan topic utama: Meningkatkan Kompetensi Diagnosa Aritmia untuk Mengurangi Kematian akibat Henti Jantung Mendadak (“Enhance Arrhythmias Diagnosis Reduce Sudden Cardiac Death”) .

Sebanyak 17,3 juta orang di seluruh dunia meninggal setiap tahun karena penyakit kardiovaskular. Lebih dari 7.000.000 jiwa diperkirakan akan mengalami kematian akibat henti jantung mendadak. Perubahan diet dan gaya hidup di negara-negara berkembang juga dapat meningkatkan kejadian henti jantung mendadak. Salah satu penyebabnya adalah gangguan irama jantung atau dikenal dengan istilah aritmia. Gangguan irama detak jantung, baik yang denyutnya menjadi lambat maupun cepat harus diperhatikan secara serius, sebab, kelainan aritmia jantung ini bisa meningkatkan risiko kematian mendadak. Untuk itu dalam pertemuan ilmiah tahunan ini InaHRS akan memberikan update terkini yang membahas topik-topik terkait aritmia seperti henti jantung mendadak, fibrilasi atrium, syncope, gagal jantung dan aritmia, device therapy, VT-SVT dan aritmia pada anak.

Ashraf Al-Ouf,

Ashraf Al-Ouf, Presiden Direktur Bayer Indonesia mengatakan,”Bayer sebagai perusahaan berbasis life science berkomitmen untuk mendukung para Dokter melalui pertemuan – pertemuan ilmiah baik di dalam maupun luar negeri. Bayer banyak melakukan kerjasama dengan institusi internasional dalam bidang penelitian yang berkelanjutan dan studi klinis sehingga dapat membantu para Dokter dalam memberikan terapi kepada pasien sehingga pasien dapat memperoleh pengobatan yang tepat dan kualitas kesehatan yang baik. Untuk itu kami sangat mendukung InaHRS dalam rangka Pertemuan Ilmiah Tahunan InaHRS tahun ini. Saya yakin bahwa pertemuan ilmiah ini akan memberikan banyak manfaat bagi para Dokter terutama meningkatkan kompetensi diagnosa aritmia sehingga dapat mengurangi kematian akibat henti jantung mendadak. Upaya InaHRS ini sejalan dengan misi Bayer yaitu Science for Better Life dimana Bayer selalu melihat kebutuhan masyarakat akan tantangan kesehatan yang dihadapi dunia. Sebagai perusahaan berbasis riset dan pengembangan (R&D), Bayer telah mengeluarkan dana sebesar Rp. 41,3 trilyun untuk R&D di bidang kesehatan pada tahun 2015. Produk-produk yang baru diluncurkan telah diterima dengan baik karena dapat membantu mengobati kondisi medis yang sulit, seperti kanker, stroke, trombosis dan penyakit mata yang berhubungan dengan usia lanjut. Kedepan, kami terus berupaya menghadirkan obat-obatan yang inovatif untuk kebutuhan medis yang belum terpenuhi. Diharapkan produk-produk kami dapat memberi manfaat yang lebih besar untuk pasien di seluruh dunia dan khususnya di Indonesia.”

Populasi dunia saat berkembang dengan cepat dan menua. Diperkirakan pada tahun 2050 jumlah populasi di Asia Pasifik akan mencapai setengah dari populasi dunia atau jumlahnya mendekati 580 juta jiwa. Di wilayah ini pertambahan populasi usia 60 tahun keatas meningkat dari 12% menjadi 24% pada tahun 20504. Kondisi ini akan berdampak pada masalah kesehatan seperti kanker, kardiovaskular dan diabetes. Di wilayah Asia Pasifik, penyakit kardiovaskular akan tetap menjadi hal utama kebutuhan medis dan menjadi penyebab utama kematian di wilayah ini. Pada tahun 2015 telah terjadi sekitar 8,2 juta kasus kematian yang disebabkan penyakit kardiovaskular. Hal ini menunjukkan peningkatan 21% dari 6,8 juta pada tahun 20055. Salah satu masalah serius bagi kesehatan jantung di Indonesia adalah Fibrilasi atrium dimana jumlah pasien terus meningkat di masa yang akan datang. Gagal jantung dan stroke merupakan komplikasi FA paling sering terjadi yang dapat mengakibatkan disabilitas berat dan permanen. Walaupun lebih banyak terjadi pada usia lanjut, tetapi proporsi FA yang bermakna dapat terjadi pada usia muda. Menurut data dari studi observasional (MONICA – multinational MONItoring of trend and determinant in Cardiovascular disease) pada populasi urban di Jakarta menemukan angka kejadian FA sebesar 0,2% dengan rasio laki-laki dan perempuan 3:26. Selain itu,karena terjadi peningkatan signifikan persentase populasi usia lanjut di Indonesia yaitu 7,74% (pada tahun 2000 – 2005) menjadi 28,68% (estimasi WHO tahun 2045 – 2050)7, maka angka kejadian FA juga akan meningkat secara signifikan. Sementara itu, data di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita menunjukkan bahwa persentase kejadian FA pada pasien rawat selalu meningkat setiap tahunnya, yaitu 7,1% pada tahun 2010, meningkat menjadi 9,0% (2011), 9,3% (2012) dan 9,8% (2013). (r/p)

 

About

POST YOUR COMMENTS