Program ‘Telisik Tari 2016: Tari Melayu’

Newswartasatu.com, JAKARTA – Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menyelenggarakan program Telisik Tari dengan mengusung tema Tari Melayu yang di mulai dari tanggal 23 – 24 November 2016, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Hartati, Ketua Komite Tari DKJ mengatakan bahwa tujuan mengusung tema ini adalah untuk mengingatkan kembali bahwa dari sekian banyak budaya di nusantara berdasar pada budaya Melayu. “

'Telisik Tari

Foto : Jakartavenue.com

“Kami merasa generasi muda saat ini melihat Melayu seakan-akan adalah milik negara tetangga. Padahal tari Melayu adalah satu di antara produk budaya masyarakat yang ada di Nusantara yang tidak luput mengalami pengaruh dan dinamika sejarah dan sosial masyarakat. Dalam kesejarahannya tari melayu tidak bisa merujuk pada sebuah batas teritori satu wilayah atau satu negara tertentu,” ujar Hartati.

Menurut Hartati, pada periode tahun 1950an tari Melayu banyak berkembang di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam. Bahkan Soekarno pernah mencanangkan para pemuda serta pemudi Indonesia untuk belajar tari Melayu Serampang 12 sebagai usaha untuk membentengi pergaulan dari tarian-tarian budaya Barat (Cha-Cha, Waltz, Agogo) yang trend di kalangan anak muda kala itu.

Bahkan jika di telisik lebih dalam, Ia mengatakan bahwa sebelumnya pada masa kemerdekaan, budaya Melayu sebenarnya juga sangat dekat dengan hiburan rakyat, seperti pada teater bangsawan ataupun Komedi Stamboel, serta pada masa masuknya Islam di Nusantara yang banyak menggunakan budaya Melayu sebagai media syiar agama.

Kegiatan ini terbuka bagi kalangan masyarakat umum. Dalam serangkaian kegiatan ini di awali dengan Seminar Telisik Tari Melayu dan Master Class Tari Melayu serta di isi pula dengan pameran dan kuliner melayu autentik. (r/p)

 

About

POST YOUR COMMENTS